Ayam Kampus Dan HIV/AIDS

Ayam Kampus  Dan HIV/AIDS

Ayam Kampus  Dan HIV/AIDS – Kenikmatan sesaat atau surga dunia mungkin bisa diperoleh oleh para pria hidung belang penikmat ‘ayam kampus’. Mereka yang rela menghambur-hamburkan uangnya demi memuaskan nafsu syahwat mungkin lupa dengan bahaya dan dosa yang mengancam baik secara agama maupun kesehatan fisik.

0001Ancaman penyakit menular seksual hingga HIV/AIDS tentu tak lepas dari kehidupan para ‘gadun’, begitulah istilah bagi ‘om-om’ berduit. Jangankan pengguna ‘ayam kampus’, sang penjaja seks atau si ‘ayam kampus’ sendiri sebetulnya mengaku takut tertular.

“Sebenarnya saya khawatir sudah tertular HIV karena sudah berapa banyak pria yang berhubungan dengan saya, ada yang pakai kondom ada juga yang enggak mau, banyak LSM HIV/AIDS yang melakukan konseling dan meminta saya untuk ikut tes VCT, tapi saya masih belum berani,” kata Mawar (24), bukan nama sebenarnya, ‘ayam kampus’ salah satu perguruan tinggi swasta di Depok.

Pegiat HIV/AIDS di Depok Deny Eka Saputra menuturkan, dari data yang ia miliki, selain karena narkoba suntik, paling banyak Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah karena seringkali ‘jajan’ atau bergonta – ganti pasangan. Ia menambahkan, justru penikmat ‘ayam kampus’ lebih banyak tertular ketimbang si ‘ayam kampus’ itu sendiri.

“30 persen lelaki pengguna ‘ayam kampus’ atau si gadunnya lebih banyak yang tertular. Pengguna lebih banyak. Yang lainnya penerima Wanita Pekerja Seks (WPS) atau juga waria, ada lho waria di Depok yang punya suami,” ungkapnya kepada Okezone.

Deny menambahkan setiap pasien atau calon pasiennya didorong untuk mau menguji tes VCT dan tes darah. Namun kebanyakan dari mereka tidak berani melakukannya.

“Apalagi waria, kalau sudah ngomong kan bawel suaranya juga besar, ngamuk – ngamuk marah-marah pernah karena ternyata terjangkit HIV, katanya dokternya salah,” tuturnya.

Deny menambahkan banyaknya ‘ayam kampus’ yang terkena HIV/AIDS lebih sulit untuk diketahui. Karena mereka cenderung tertutup dan identitasnya tidak terlihat atau berbeda dari mahasiswi kebanyakan.

“Kita harus antar jemput pasti. Kita duluan yang jemput bola. Mereka pasti tertutup. Sulitnya lagi mereka kerja malam. Karena itu selain terjun ke bawah, kami juga menjaringnya lewat sosial media, kebanyakan dari mereka uangnya memang untuk senang-senang,” tandasnya.(okezone.com)

You May Also Like