Bisnis Esek-Esek di Dunia Malam Lombok

Bisnis Esek-Esek di Dunia Malam Lombok

Bisnis Esek-Esek di Dunia Malam Lombok. Di diskotek BC di pusat kawasan wisata Senggigi, Lombok, malam Minggu diatas jam 01.00 dini hari, makin dibanjiri pengunjung. Ketika lampu di tempat lain mulai dipadamkan, seolah—olah baru dimulai kehidupan dunia malam yang sebenarnya. Musik terasa makin keras. Tempat melantai yang tak begitu luas sesak oleh pengunjung yang (seperti) menyesalkan cepatnya malam berlalu. Banyak perempuan muda datang tanpa pasangan. Tampak pria setengah baya berpakaian parlente berjalan masuk dengan dua gadis. Dari cara berpakaian dan lagaknya yang masih gugup, mungkin keduanya masih pelajar. Tapi dapat dipastikan bukan keponakan Om Parlente itu. Sebab salah seorang gadis itu tampak berat menahan kepalanya (mungkin mabuk) dan berjalan memeluk erat si Om. ”Tempat ini pelabuhan terakhir, setelah itu dilanjutkan ke kamar,” kata seorang teman yang tiap malam Minggu menikmati dunia malam dengan nongkrong di BC.

Menurutnya, BC tergolong murah. Ada yang gengsinya lebih tinggi, yaitu di pub Trc yang letaknya di kompleks perbelanjaan di pusat kawasan wisata Senggigi. Tiket masuk di BC hanya Rp 10 ribu, sedang di Trc tiketnya lipat dua kali, minumannya juga lebh mahal. Pejabat atau kalangan eksekutif yang ngebet menikmati dunia malam di Senggigi sering tampak duduk di pub itu.
Di tengah anjloknya wisatawan ke Lombok, maraknya kafe, pub, dan diskotek tak berkurang. Tidak hanya di Mataram dan Senggigi, di tempat-tempat lain di Lombok seperti beberapa daerah di Lombok Timur atau Lombok Selatan yang semula dihajatkan sebagai kawasan wisata, bermunculan tempat hiburan dunia malam yang hanya dikunjungi orang-orang awak. Tentu saja, dalam kehidupan malam seperti itu, mustahil tak berlangsung bisnis esek-esek.

Banyak yang membuktikan, pertumbuhan bisnis esek-esek bukan semata-mata ditentukan faktor ekonomi. Ada nuansa yang lebih ”kultural”, kehidupan dunia malam dan gonta-ganti pasangan (dengan imbalan atau atas dasar suka sama suka) menjadi semacam simbol status pergaulan sosial yang lebih ”modern”. Dan gaya hidup modern memang cenderung melonggarkan norma-norma konvensional.

Baca juga:

You May Also Like