Fenomena MAMI Dimata Cewek Bis*Pak Dilembah Hitam

Fenomena MAMI Dimata Cewek Bis*Pak Dilembah Hitam

Fenomena MAMI Dimata Cewek Bis*Pak Dilembah Hitam  – Ironis sekaligus tragis. Penyedia perawan-perawan untuk konsumsi lelaki berduit justru perempuan. Mereka biasa disebut GM atau ‘mami’. Di tangan sang mami-lah, segala urusan bisnis esek-esek berjalan. Mulai dari mencari cewek-cewek pera+wan, pemasaran, hingga tahap transaksi. Siapa saja mereka? Bagaimana modus operandinya? Di mana lelaki bisa memperoleh ‘koleksi’-nya?

DSC00306
Mami adalah sosok kontroversial. Di mata cewek-cewek tertentu, dia mirip seorang dewi penolong yang mampu membebaskan ‘penderitaan’ akibat tekanan ekonomi. Dia juga seorang koordinator, manajer atau bahkan godfather bagi cewek-cewek yang menyandarkan hidup dari jasa baiknya.

Namun, banyak pula yang beranggapan, mami tak lebih dari sekadar serigala berbulu domba. Ini berlaku bagi gadis-gadis suci yang tanpa sadar dijerumuskan ke lembah hitam dengan seribu satu janji-janji manis.

Mami-mami ini, karena berbagai faktor, bukan hanya ‘memangsa’ perempuan-perempuan muda yang memang butuh uluran tangan, tapi juga perempuan baik-baik yang ekonominya cukup dan masih menempuh ilmu.

Seorang perempuan paruh baya bernama Mona “SAMARAN”, yang suka membantu remaja putri yang butuh pekerjaan. Biasanya, Mona menjanjikan pekerjaan sebagai sales promotion girl (SPG) atau pramuniaga. Padahal, sebenarnya dia pemasok kawakan perempuan-perempuan penghibur. Parahnya, yang dipasok kebanyakan adalah gadis-gadis ABG yang membutuhkan materi demi masa depan yang lebih baik.

Entah bagaimana asal usulnya, para GM ini didominasi oleh kaum perempuan. Hampir di setiap diskotik di kota-kota besar dikuasai oleh mami-mami pemasok cewek bis+pak atau panggilan. Para mami ini biasanya mempunyai kekuasaan mutlak atas anak buahnya; mulai dari penyediaan tempat tinggal, jam kerja, hingga mengatur kebutuhan hidup sehari-hari.

Paling tidak, seorang mami membawahi 20 hingga 50 orang orang. Mereka ditampung dalam sebuah rumah besar dengan sistem sewa yang dipotong langsung dari kerja keras anak buahnya.

Mona misalnya, perempuan paruh baya yang awalnya membuka bisnis agency ini, ternyata adalah seorang GM yang mempunyai koleksi gadis-gadis penghibur dari kalangan model belia, yang usianya berkisar dari 18 tahun sampai 25 tahun. Koleksi Mona kebanyakan model-model kelas menengah, yang harus diakui namanya belum begitu populer. Tapi, ukuran fisik gadis-gadis yang dimiliki Sisca di atas rata-rata.

Mona misalnya, membawahi sedikitnya 20 model. Dia dibantu oleh dua orang asisten untuk membantu bisnisnya. Model transaksi yang dilakukan melalui dua cara. Pertama, begitu pemesan mengorder via telepon, ia akan mengajak konsumen untuk lunch atau dinner dulu. Biasanya Mona akan mengajak dua atau tiga cewek, biar klien punya pilihan. Dia mempunyai dua kelas. Untuk kategori model A, dia mengenakan tarif Rp5 juta per malam dan kelas B tarifnya Rp3 juta.

Bisnis kehangatan ini memang tak pernah surut. Di jaman krisis seperti sekarang, aku Mona, permintaan tetap tinggi. Selain pelanggan tetap, banyak juga pelanggan biasa yang datang silih berganti siang malam. Dalam sehari, Mona paling tidak melayani 3 – 6 transaksi. Dari transaksi itu, paling tidak dia bisa memperoleh pendapatan bersih Rp1,5 sampai dengan Rp3 juta per hari.

Selain Mona, ada mami lain yang ‘main’ di kalangan selebriti. Sebut saja Indah, foto model dan artis ‘bis+pak’ yang banyak dikenal oleh kalangan atas. Beberapa kali wajahnya sempat menghiasi sinetron di layar kaca. Di kalangan pengusaha berduit, namanya sudah tak asing lagi. Cewek yang pernah menjalin hubungan dekat dengan pemain bola ini sudah hidup mapan. Rumahnya yang berada di kawasan BI Garden, Jaksel, cukup megah. Di garasinya, ada sebuah sedan yang kelihatannya masih gres.

Perempuan beranak satu kelahiran 1969 ini, akhirnya beralih profesi. Dia tak lagi ‘menjual’ wajah dan tubuhnya untuk cover majalah, model iklan, atau pemain sinetron. Dia kini meneruskan hobi lamanya. Menyadari kedekatannya dengan kalangan selebritis, pengusaha dan birokrat, dia mulai menapaki karir barunya sebagai ‘mami’.

Di tangannyalah, beberapa artis pemula dan model baru siap ‘diorbitkan’. Ada sekitar 30-an artis bis+pak yang berada dalam kontrolnya. Modus operandi yang dilakukannya cukup sederhana. Begitu ada klien menelepon dan menginginkan artis tertentu, dia tinggal mengontak artis tersebut. Berikutnya, Indah akan mengajak klien untuk dinner dulu, sekaligus menuntaskan transaksi.

Perempuan yang masih kelihatan cantik di usianya yang ke 35 ini mengaku, penghasilannya dari bisnis ‘hiburan’ ini cukup lumayan. Selain menyediakan artis-artis untuk konsumsi klien papan atas, Indah juga memasok hotel-hotel berbintang untuk memenuhi hasrat sang tamu. Agar bisnisnya berlanjut terus, Indah tak segan-segan menyelusup ke sana ke mari agar bisa dikenal luas oleh berbagai lapisan kelas atas, misalnya ke acara seminar, fashion show, dan sebagainya.

You May Also Like