Gadis Muda Jadi Pelacur Dibanderol Rp 2 Juta

Gadis Muda Jadi Pelacur Dibanderol Rp 2 Juta

Gadis Muda Jadi Pelacur Dibanderol Rp 2 Juta. Kasus perdagangan manusia (human trafficking) dengan korban gadis muda yang dijadikan pelacur mengentak Kutai Kartanegara (Kukar). Lima orang diringkus setelah puluhan anggota Reskrim Polres Kukar menggerebek Lokalisasi Muara Kembang di Kecamatan Muara Jawa, Kukar, Rabu (21/10) malam. Kelima tersangka penyedia pelacur yang diamankan adalah Su (45), A (64), Sr (31), As (25), dan Ca (25).

Mereka memiliki peran yang berbeda-beda dalam kasus perdagangan manusia yang diungkap polisi. Mulai dari penampung, penghubung hingga yang meminta korban untuk menjajakan kenikmatan kepada pria hidung belang layaknya pelacur.

Su diketahui merupakan istri mantan lurah di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga. Su bahkan kini menjadi buronan Polresta Malang atas kasus serupa. Dari hasil operasi tersebut, polisi juga mengamankan tiga anak belasan tahun yang berhasil kabur dari para muncikari yang ditengarai menjadikan mereka sebagai pelacur. Para korban adalah Ev (16), En (16), dan Mi (14). Mirisnya, saat ditemukan, korban En sudah mengidap penyakit herpes kelamin. Sedangkan korban Mi kini sedang hamil dua bulan.

“Jadi pengungkapan ini kita lakukan setelah korban Ev dan En berhasil kabur dari lokalisasi tersebut dan menghubungi keluarga masing-masing di Balikpapan dan Malang,” terang Wakapolres  Kukar Kompol Indratmoko Kamis (22/10) kemarin. Korban Ev dan Mi yang juga dijadikan pelacur, diketahui berasal dari Malang, Jawa Timur.

Sedangkan En merupakan anak baru gede (ABG) dari Balikpapan. Dari hasil keterangan yang dihimpun kepolisian, para tersangka ini memang merupakan sindikat pencari bocah yang akan dijual untuk dijadikan pelacur.

Diduga kuat, masih ada bocah lainnya yang dijadikan pelacur, sudah lebih dulu dipulangkan ke daerah asal setelah mengetahui adanya penggerebekan yang dilakukan polisi.

Wakapolres menerangkan, peran Su yang merupakan mantan istri lurah tersebut sebagai pencari perempuan di kampung-kampung dari berbagai daerah. Su yang juga berasal dari Malang, sudah beberapa tahun ini sering mencari perempuan di kampungnya untuk dijadikan pelacur. Selain Su, ada Ad yang kini berstatus buronan.

Dengan diiming-imingi sejumlah pekerjaan, Su mengajak para bocah tersebut untuk tinggal di Kalimantan. Dari keterangan korban, Su dan Ad biasanya menjanjikan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga atau penjaga toko dengan gaji besar. Namun sesampainya di Kaltim, para korban justru dibawa ke Lokalisasi Muara Kembang untuk dijadikan pelacur. Setelah sampai di Kaltim, ponsel korban langsung diambil sehingga korban tak bisa menghubungi keluarganya di kampung.

“Jadi untuk perempuan yang di bawah umur dijual dengan harga Rp 2 juta. Sedangkan yang sudah dewasa Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Mereka setelah itu menjadi tanggung jawab pemilik wisma di lokalisasi tersebut,” kata Wakapolres. Dua wisma yang menampung para korban yang dijadikan pelacur, yaitu Kafe Bone Indah milik tersangka A dan Ca. Juga Kafe Armada milik tersangka As dan Sr.

Dua wisma ini memang sering menyediakan pelacur muda kepada para tamu. Setiap kali berhubungan, para korban hanya dibayar Rp 300 ribu. Uang itu dibagi dengan pemilik wisma sebanyak Rp 100 ribu. Namun jika ada tamu yang hanya ingin ditemani minum, korban dibayar Rp 100 ribu.

“Korban ini sebenarnya juga sudah lama ingin kabur. Tapi mereka juga tidak tahu jalan dan tidak punya ponsel. Makanya, saat ada kesempatan kabur dan menghubungi keluarganya, mereka akhirnya bisa melaporkan kejadian ini ke polisi,” tambahnya. Orangtua Ev dan Mi di Malang, sebenarnya sudah melapor ke polisi tentang hilangnya anak mereka. Namun, anggota Polresta Malang baru bisa mendeteksi keberadaan korban setelah pengungkapan kasus ini.

Saat ini, tersangka Su kasusnya dilimpahkan ke Polresta Malang karena dia juga terjerat kasus serupa di Malang. “Tersangka Su akan kita serahkan kepada Polresta Malang. Mereka yang akan lebih dulu menangani kasus tersangka karena laporannya juga lebih dahulu masuk di sana,” ujarnya lagi.

Saat ditemui wartawan, korban Ev mengaku jika dirinya sudah lebih dari setahun bekerja sebagai pelacur. Sebelum menginjakkan kaki di Kalimantan, ia tergiur dengan tawaran Su yang berjanji menjadikannya sebagai penjaga toko. Bocah belia ini baru sadar jika dirinya dijual oleh Su, ketika diminta untuk melayani pria hidung belang yang memintanya berhubungan badan.

Sementara itu, korban Mi mengaku jika dihamili oleh tamunya yang dianggapnya sebagai pacar. Saat ini, pacarnya itu juga sudah melarikan diri setelah Muara Kembang digerebek oleh polisi.

Tak hanya itu, Ev bersama rekannya yang lain, selama dijadikan pelacur, juga sering diminta untuk menggunakan narkoba sebelum berhubungan badan. Permintaan para tamunya itu tak bisa ditolak lantaran ia sering merasa takut setelah menerima tekanan karena dimarahi. “Kami di sana (lokalisasi) enggak boleh jalan-jalan keluar. paling di sekitar lokalisasi saja,” ujarnya singkat.

Baca juga:

You May Also Like