Harga “Ayam Kampus” Depok Jauh Lebih Mahal

Harga “Ayam Kampus” Depok Jauh Lebih Mahal

[Harga “Ayam Kampus” Depok Jauh Lebih Mahal] Banyaknya kampus di Depok, Jawa Barat, membuat image kota tersebut tak terlepas dari fenomena ayam kampus. Demi kebutuhan uang jajan ataupun motif ekonomi, ayam kampus rela menjajakan diri kepada para lelaki hidung belang yang biasa disebut gadun di kalangan mereka.

Ayam Kampus di Depok juga tak kalah profesional dengan ibukota. Mereka mematok tarif menengah yang terbilang cukup tinggi. “Kalau saya sih Rp 1,5 juta, itu short time, kurang lebih satu jam, belum termasuk hotel, tetapi bisa nego kok,” ujar Mawar, bukan nama sebenarnya, ayam kampus salah satu perguruan tinggu swasta di Depok.

Namun cita rasa ayam kampus tersebut dirasa berbeda jika berasal dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Semakin ternama asal kampusnya dari universitas negeri, maka harganya bisa semakin melangit.

Hal itu diungkapkan Pengamat Budaya Modern Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) Ibnu Wahyudin. Menurutnya harga tawar ayam kampus terkait erat dengan identitas kekampusan.

“Bawa harga jual tinggi bisa pengarug dari nama kampusnya, terlepas pelayanannya bagus atau tidak kan kita enggak tahu,” katanya di Kampus UI, Depok, Rabu (12/03/2014).

Menurutnya, ayam kampus dari universitas negeri bisa jauh lebih mahal ketimbang perguruan tinggi swasta. “PTN dan PTS tentu jauh beda itu, PTN bisa mahal sekali. Kalau PTS katanya Rp 1,5 juta, PTN bisa Rp5 jutaan. Ada isyarat-isyarat itu, seseorang melihatnya beda,” katanya.

Menurut Ibnu, istilah Ayam Kampus semula berasal dari plesetan ayam kampung. Mulai muncul sebetulnya sudah lama yakni sekira tahun 1980an. “Istilah itu sudah lama, plesetan sudah lama, ayam kampung yang ada di kampus, mulai populer zaman – zamannya Catatan Si Boy,” jelasnya.

Berkaitan dengan situasi zaman, menurut Ibnu, ayam kampus masa kini jauh lebih kreatif dan mampu bereksplorasi. Dahulu mereka harus melalui mucikari, tetapi kini bisa dengan lihai ‘memasarkan’ diri sendiri secara individual.

“Zaman dulu keinginan tampil gaya melebih kemampuan ekonomi sudah ada, sepertinya tak seeksploratif sekarang, lebih kreatif yang sekarang, dia (ayam kampus) yang mengelola dirinya. Dulu pakai perantara dan ada semacam lokalisasi, sekarang lebih mandiri,” tutupnya.(sumber:merdeka.com)

BACA JUGA:

You May Also Like