Manado Tujuan Wisata Seks Nomor Satu Setelah Jakarta

Manado Tujuan Wisata Seks Nomor Satu Setelah Jakarta

Manado Tujuan Wisata Seks Nomor Satu Setelah JakartaBibir Manado sudah lama ngetop. Tapi lima tahun terakhir magnetnya makin kuat. Jangan heran, di kalangan lelaki hidung belang, Manado jadi kota tujuan number one wisata seks setelah Jakarta. Karenanya, tak jarang banyak pejabat luar daerah sering menghabiskan waktu dengan menggelar rapat, seminar, workshop hingga kunjungan kerja di daerah Nyiur Melambai. Pejabat yang jatuh hati dengan perempuan Sulut, langsung dijadikan wanita simpanan, bahkan diajak berangkat ke luar daerah dan dibelikan rumah, apartemen hingga mobil. Bahkan tak jarang, banyak yang diajak kawin. Peluang ini pun ditangkap sejumlah pengusaha hiburan dan spa di Sulut, dengan membuka usaha yang menyediakan service plus (esek-esek, red).

Konsekuensi Sulut, khususnya Kota Manado sebagai kota jasa menjadikan daerah ini sebagai sasaran empuk bagi pelancong untuk berwisata. Tak hanya menikmati keindahan alam, pengunjung pun penasaran berwisata ‘syahwat’. Apalagi, perempuan Sulut dikenal cantik, berbodi dan kulit putih mulus, dan menantang. Karenanya, sering kita dengar pejabat pusat sering ke Sulut. Berbagai strategi jitu pun dirancang agar bisa berkunjung. Mulai dari rapat, seminar, workshop, kunjungan kerja, peresmian proyek hingga acara kementerian digelar di hotel berbintang, cottage, dan restoran. Biasanya, sang pejabat tak memboyong istri maupun anak.

“Memang kalau untuk workshop dan seminar masih ada tempat yang lebih representatif di Jakarta. Tapi karena daya tarik perempuan Sulut yang menggoda, kami sering mengalihkan pertemuan kerja di Manado,” aku salah seorang pejabat kementerian, yang baru-baru ini mengadakan kunjungan kerja ke Sulut. Menurutnya, pesona wanita Sulut sangat masyhur di Jakarta, sehingga banyak yang tertarik untuk membuktikannya.

“Awalnya, kita coba-coba saja. Tapi lama kelamaan ketagihan juga. Apalagi, perempuan Manado sangat menantang,” tambah pria bertubuh cukup tambun ini. Tak hanya itu, bagi yang jatuh cinta, sang wanita langsung diboyong ke Jakarta dan dijadikan wanita simpanan dan diberikan fasilitas rumah, apartemen hingga mobil baik di Jakarta ataupun di Manado. “Kalau dia cantik, soal rumah, apartemen hingga mobil tidak masalah,” sambung pria parlente ini.

Sementara itu, meningkatnya pelancong ke Sulut untuk berwisata seks, peluang bisnisnya ditangkap pengusaha pub, karaoke hingga spa, yang menyediakan layanan ‘full service’.  Data yang dihimpun Dinas Pariwisata Kota Manado, pub/klub malam sebanyak 14, tempat karaoke ada 13, bahkan tempat pijat/spa mencapai 45 lokasi. Dari 72 tempat hiburan ini, umumnya diduga rangkap praktek prostitusi dan tidak lagi sembunyi-sembunyi. Terhitung, hanya beberapa tempat spa dan karaoke saja yang murni untuk kesehatan dan keluarga.  Jurus marketing pun dilancarkan para pemijatnya yang disebut terapis. Bermodalkan, seragam super minim, rambut dicat pirang, selalu wangi, langsung membuat para tamu terpana.

“Dibuka saja pak semuanya (bugil, maaf) biar dipijat lebih santai,” ujar Tiffany, salah seorang terapis di kawasan Boulevard. Ajakan Tiffany ini pun membuat tamu yang juga salah satu pejabat kementerian ini terpana. Sembari berbaring di tempat tidur, ruangan khusus berdinding tembok, kamar mandi dalam, dan pintu yang bisa ditutup, pejabat pun mulai di-massage (pijat, red). Tifanny pun mulai makin berani dan tangannya mulai menyusuri selangkangan (maaf, red) paha. Saking agresifnya, pejabat pun mulai ditawarkan layanan sangat istimewa, dengan paket Body Message (pijat badan sambil bugil, red) . Harga yang ditawarkan bervariasi, kalau cuma Body Massage Rp500.000-750.000, kalau sampai making love (bercinta, red) bisa sampai Rp750.000-1.000.000. Tawaran ini pun super menggoda, tanpa berpikir panjang, pria terhormat ini pun meladeni ajakan untuk kencan sesaat.

“Walaupun tarif body massage lebih mahal dari terapis di Jakarta, ada tantangan tersendiri. Apalagi, terapisnya perempuan Manado,” akunya seraya menambahkan untuk service handjob Rp250.000-500.000 dan blowjob Rp500.000-750.000.

Selain spa, tempat karaoke dan pub tak ingin kehilangan taji. Paket tarian erotis menjurus striptis sudah sering ditemui di sejumlah tempat hiburan malam. Bahkan, untuk kalangan borjuis, ada kamar karaoke khusus yang disediakan untuk tamu-tamu yang berduit. Untuk striper (penari telanjang, red), penarinya adalah para Pemandu Lagu (PL), yang dipegang seorang mami ataupun papi. Biasanya, para PL yang berpakaian seksi dan layaknya artis oriental ini, dibawa ke kamar tamu. Tarif sekali kencan Rp1.000.000-1.500.000.

“Sebenarnya tak mau melacurkan diri. Tapi, apa daya kebutuhan ekonomi memaksa kami. Apalagi, biaya hidup di Manado sangat mahal,” aku, perempuan belia asal Manado ini.

Terkait menjamurnya bisnis spa dan karaoke esek-esek, kepolisian mulai berupaya memberikan shock therapy. Petugas gabungan Polda Sulut dan jajarannya saat ini, sedang gencar-gencarnya melaksanakan razia penyakit masyarakat (Pekat) di sejumlah lokasi yang dinilai rawan. Tak terkecuali tempat-tempat hiburan malam, tempat spa dan Pekerja Seks Komersial (PSK).

”Operasi pekat ini dilaksanakan bertujuan untuk menghilangkan keresahan warga di wilayah hukum Polda Sulut. Sebab, ini memang tugas kami, menjaga dan melindungi masyarakat serta daerah ini,” tegas Kabid Humas Polda Sulut AKBP Wilson Damanik. Nantinya, beber Damanik, operasi pekat ini juga bertujuan untuk mengamankan suasana Natal dan menjelang akhir tahun 2014. Olehnya, razia di tempat spa sendiri, akan dikoordinasikan dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).

“Sebab, jika Disparbud meminta bantuan untuk sama-sama melaksanakan razia spa, kami pasti berikan bantuan,” ungkap Damanik. Ditambahkannya, penertiban PSK juga merupakan sasaran dari pihak kepolisian. “Jika kedapatan pasti akan kami proses sesuai aturan yang berlaku. Bukan hanya PSK, tetapi lokasi yang dijadikan tempat prostitusi juga bakal kami tindak,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Tempat Hiburan dan Rekreasi (Ashiri) Kota Manado Arthur Supit menegaskan, soal razia tak berpengaruh bagi tempat hiburan. “Karena yang kami tekankan disini adalah hiburan, karena otomatis kita menjaga image tempat hiburan,” ujar Supit. Soal service plus-plus, kata Supit, kembali kepada pribadi masing-masing.

“Kalau untuk tempat hiburan di Manado, kita berharap isu tersebut masih kabar burung,” tutupnya. (manadopostonline)

You May Also Like