Menelusuri Bisnis Massage dan SPA di Padang

Menelusuri Bisnis Massage dan SPA di Padang

Menelusuri Bisnis Massage dan SPA di Padang – Dewasa ini, tren ekonomi kreatif mulai tumbuh dan berkembang. Seiring dengan kerapnya Sumatera Barat dijadikan sebagai lokasi penyelenggaran acara. Bisnis perhotelan  ibarat cendawan tumbuh di kala musim hujan. Seiring dengan pertumbuhan tersebut, usaha massage dan spa pun mulai berkembang di ibu kota Sumbar ini. Usaha ini tidak hanya mengusung konsep umum, tapi ada juga syariah. Namun sayangnya, sebanyak yang menjalankan usahanya dengan benar, banyak pula yang nakal dengan menawarkan jasa esek-esek. Wajar saja, usaha esek-esek masih saja mendapatkan image yang negatif dari masyarakat.

Di depan ruko esek-esek terpampang papan nama ‘Massage dan SPA xxxx’. Kala itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 11.00 WIB. Ketika masuk ruangan depan, terlihat tulisan yang berbunyi ”Anda Sopan, Kami Segan, No Sex”. Tulisan itu ditulis pada kertas A4 di pres dan ditempel di dinding.

Masih pada ruangan Massage dan SPA tersebut, ada kaca hitam dan meja kasir leter L yang membatasi ruangan masuk pintu lainnya. Di atas meja kasir ada pesawat televisi yang selalu menemani kasir duduk di depan. Ruangan tersebut dilengkapi dengan 3 buah kursi tunggu yang terbuat dari kayu. Kemudian di depan ruang kasir berdiri 2 buah kursi busa berwarna merah. Ruang tersebut dibatasi dua buah lemari kaca.

Dalam lemari kaca tersebut pada tingkatan pertama dipenuhi produk-produk kesehatan kulit yang berbaur dunia Massage dan SPA. Pada bagian lain dari lemari tersebut ada minuman kaleng dan rokok. Selain itu ada pula piagam perizinan usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah kota Padang. Posisi piagam tersebut berada di dinding belakang duduk kasir.

Sepintas terlihat tidak ada orang yang di dalamnya. Tapi setelah diperhatikan dengan seksama ternyata ada kasir Massage dan SPA yang sedang duduk. Saat itu, tidak banyak tamu di ruangan tunggu.

Sejurus kemudian, tiba-tiba datang seorang perempuan. Dengan ramah si wanita berumur sekira 30 tahunan itu langsung menawarkan paket Massage dan SPA apa yang akan diambil. Wanita yang ternyata kasir tersebut menyedorkan daftar paket dari A sampai O dengan menu dan tarif yang beragam. Dari daftar itu terlihat terpampang harga mulai dari Rp 90 ribu hingga Rp500 ribu. ”Ini belum termasuk tipsnya lo, mas,” katanya. Sedangkan durasi per paket pelayanannya dari 90 sampai 120 menit waktu pelayanan.

Setelah mengamati dengan seksama, dijatuhkan pilihan pada massage dengan lama pelayanan 90 menit dengan tarif Rp120 ribu. Kasir langsung menceklis di buku catatannya. Kemudian si kasir melanjutkan siapa yang dipilih untuk memijat. Apakah yang lebih muda, atau yang berumur. Karena belum tahu apa-apa, dengan spontan, Padang Ekspres mengatakan terserah. Kasir tersebut lalu mempersilahkan untuk masuk ke ruangan nomor 5. Ternyata setiap kamar sudah memiliki kode nomor tertentu. Dimana kalau nomor satu usia terapisnya jauh lebih muda serta pelayanannya tentu tidak sama dengan pelayanan lainnya.

Begitu masuk nomor kamar Massage dan SPA yang ditunjuk, ternyata sekeliling ruangan tersebut terlihat remang-remang, hanya dilengkapi dengan bola lampu jantung ber-watt kecil. Selama dalam ruangan seperti lorong yang telah di sekat dengan papan triplek seukuran 2 meter tinggi, dan lebar 2×3 meter.

Tak lama setelah itu, terdengar langkah kaki orang berjalan. Langkah kaki tersebut makin lama makin mendekat. Ternyata itu langkah seorang perempuan paroh baya yang masuk dari arah pintu kasir. Dia adalah tenaga pijat yang melayani tamu Massage dan SPA. Dengan ramah, dia menyapa, ”Bang disebelah sini bang kamarnya,” sapanya sambil mengarahkan tangannya untuk menempati tempat yang di sebut kamar tersebut.

Perempuan tersebut mengikuti dari belakang sambil menutupi gorden sebagai pembatas ruang dari lorong menuju kamar Massage dan SPA.  Setelah tirai ditutup, wanita yang mengaku berusia 34 tahun itu bersiap-siap menjalankan tugas. ”Silahkan buka baju dan panjangnya,” instruksi si wanita sambil menyodorkan kain sarung kotak-kotak berwarna putih.

Agar suasana tidak kaku, si wanita  berusaha mencairkan suasana dengan memperkenalkan diri. Dia minta namanya di tulis dengan inisial ”JM” saja. ”Silahkan tidur di di kasur dan telungkup,” lanjutnya.

Dengan patuh,  diambil posisi tidur dan menghadap ke depan, arah kepala. ”Anda Sopan Kami pun Segan, No sex”. Itulah tulisan yang tertulis pada dinding Massage dan SPA di kepala bagian dipan. “Jika Anda tidak sopan, kami tidak akan melayani dan kami akan mengadukan Anda pada pihak yang berwajib,” kalimat tersebut tertulis di sebelah tulisan tadi.

Perempuan itu, mengambil body lotion di laci tempat tidur persis di bawah kaki tempat tidur. Lalu  perempuan itu menuangkan body lotion tersebut pada tangannya. Kemudian di oles pada kaki. Sambil mengoleskan body lotion, perempuan itu melanjutkan pertanyaannya.

”Kenapa tidak mengambil paket saja,  Bang. Dengan paket tersebut Abang akan mendapatkan pemijat yang lebih muda dari saya ini,” kata perempuan yang mengaku beranak empat itu. Perempuan yang mengaku tinggal di Padang sejak gempa 2009 itu melanjutkan, kalau mengambil paket nomor 1 pemijatnya berumur  27 tahun dan paket nomor 2 berumur 30 tahun. Keduanya cantik. Kemudian tempatnya tidak di lantai bawah ini, tapi di lantai atas Massage dan SPA.

Sebentar saja, perempuan tersebut sudah terlihat akrab. Layaknya, tidak seperti orang baru kenal beberapa menit. ”Spa ini memiliki 10 orang karyawan, dan merupakan cabang dari Bali. Saat ini juga tengah mengembangkan usaha  ke Pekanbaru, Riau. Pemiliknya adalah orang Padang yang tinggal di kawasan Tabing, sedangkan istrinya orang Tangerang,” ceritanya sembari tangannya tetap memijit. Dari carinya memijat, terlihat sekali JM sudah berpengalaman menjalankan profesi tersebut.

”Wong ini sudah menjadi profesi saya, tentunya saja sudah paham cara memijat yang benar. Tujuannya, biar Abang ketagihan, dan berbalik lagi besok-besok kesini,” lanjutnya.

Dengan mengajak bercanda, sesekali dia selipkan juga rayuan mautnya. ”Jarang tamu yang tadi ke seni yang muda seperti Abang. Rata-ratanya yang kesini berbdan besar, gendut, dan agak berumur. Sepertinya mereka pengusaha, atau pejabat dari luar daerah yang kebetulan sedang ada agenda kesini. Lalu, wanita setengah baya itu bertanya lagi, apakah mau dipijat kepalanya. ”Kepalanya Abang juga dipijit?” tawarnya. ”Kepala yang mana saja boleh, atas dan bawah tidak masalah,” lanjutnya dengan genit.

“Bang mau dibuang gak bang itunya?” sebutnya sambil menunjuk dengan mulutnya. Dia makin genit  saja. Ketika ditanya diibuang pakai apa? perempuan itu menjawab dengan kerlingan matanya. ”Terserah saja bang mau dibuang pakai apa? Dibuang pakai tangan bisa, dengan itu juga bisa” katanya yang lebih ambigu dan masih abu-abu. Dia melanjutkan, kalau pakai tangan tipsnya Rp100 ribu. Kalau buang didalam perutnya  Rp500 ribu, dengan mulut  Rp1 juta.

Ketika merasa rayuannya tidak mempan, akhirnya perempuan menyerah. Dengan memasang aksen kelelahan dia masih tetap memijit. Namun sebelum waktunya habis 90 menit, seperti kesepakatan semula,  perempuan tersebut menghentikan aktifitasnya dan menyarankan mandi, karena seluruh tubuh telah dilumuri dengan  body lotion sebagai jel pemijat. Namun ketika diprotes karena waktunya belum habis sesuai kesepakatan, itu berdalih, ”Apakah dihabiskan waktunya sampai selesai. Kan capek bang,” tuturnya dengan manja. ”Kalau dihabiskan waktunya tambah lagi tips nya bang,” ujarnya sambil menyodorkan handuk warna putih.

Kemudian perempuan itu mengemasi handuk dan meminta uang tips sambil mengiringi sampai pintu keluar di tempat kasir.

Praktek yang sama juga  dilakukan di usaha Massage dan SPA pada sebuah hotel di Kota Padang.  Namun tentu tak secara terang-terangan dilakukan. Para terapis Massage dan SPA tersebut.  Para terapis itu, tidak akan sembarangan menerima permintaan pelanggan yang ingin mengajaknya kencan plus-plus. Namun pada saat melakukan  Massage tersebut, di situlah  terjadi transaksi, sembari melakukan tukar nomor telepon.

Pelayanan plus yang hanya bisa diterima pelanggan di Massage dan SPA di tempat prakteknya hanyalah handjob yakni melakukan pijatan di daerah sensitive. Namun untuk tarifnya antara Rp200 sampai 250 ribu. Namun jika ingin pelayanan yang lebih prima, dilakukan dilokasi lain dengan biaya yang tentunya jauh lebih dari angka itu. (*)

You May Also Like