Menelusuri Jejak Pelacuran ABG (3)

Menelusuri Jejak Pelacuran ABG (3)
Menelusuri Jejak Pelacuran ABG (3) – “Cewek di sini memang jual mahal, Mas. Kalau, orangnya itu tidak bermata sipit, jarang yang mau. Tapi, kalau punya mata sipit dan bermobil, langsung tancap,” kata seorang pedagang yang biasa menjadi tempat mangkal ABG.
Seperti kawasan lainya, peran germo sangat dominan. Ini tidak lain, karena sikap malu-malu yang ditunjukkan para ABG tersebut. Ketika, Media melewati kawasan itu, sejumlah ABG hanya bergerombol, sepertinya mereka tidak terlalu peduli terhadap ‘tamu’ yang datang.
“Silakan pilih sendiri. Ini namanya Hana dan ini namanya Yeni. Dua-duanya ABG tulen,” kata germo bernama Sandy. Untuk meyakinkan konsumen, mereka tidak malu-malu menyebut bahwa keduanya bisa diajak ‘karaoke’ istilah oral seks di kalangan ABG.
78301_full
Tarifnya tidak jauh beda dengan ABG yang mangkal di kawasan lainya, yakni Rp 150 ribu. Bahkan, kalau pandai menawar bisa turun hanya Rp Rp 125 ribu untuk tiga jam pemakaian. Kalau mau nambah bisa dikalikan sendiri.
Tapi di kawasan ini harus ekstrahati-hati, germo sering main paksa. Kendati hanya sekadar minta uang rokok, tapi biasanya memanfaatkan ABG dengan menyebutkan bahwa ‘anak asuhnya’ itu punya utang.
Seperti yang dialami Media, seorang germo mengatakan kepada salah satu ABG, “Han, kamu kan punya utang sama saya Rp 15 ribu, bagaimana kalau Bos ini yang bayar, tidak apa-apa kan,” kata Sandy. Ketika disodorkan uang Rp 20 ribu, germo itu mengatakan, “Terima kasih Bos, silakan nikmati malam minggunya.”.
Germo di Jl Tais Nasution, paling sedikit memiliki lima ‘anak asuh’, dan paling banyak 20 orang. Mereka selalu membawa foto ‘anak asuh’ dalam berbagai pose.
Mereka sebagian besar dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Jika ditanya, mereka tidak sungkan-sungkan menyebut nama SLTA tempat mereka sekolah atau menyebutkan nama perguruan tingginya bagi yang mahasiswi.
‘Kalau Saya Suka, Gratis pun Jadi’

    Halaman Selanjutnya
  • 1
  • 2

You May Also Like