Nude Ladies Nite VIP Casino (2)

Nude Ladies Nite VIP Casino (2)
Nude Ladies Nite VIP Casino (2) – Ceritanya berawal ketika kami tengah mampir di kamar Jeny pada suatu malam. Jam baru saja me-nunjuk pukul 22.00 WIB. Kami asyik mengobrol dengan Jeny. Dina dan Lusy yang letak kamar bersebelahan dengan Jeny ikut
Seperti biasa, obrolan kami tak jauh dari soal lelaki. Lagu-lagu pop nasional seperti Satu Jam Saja-nya Audi, Cinta-nya Paramitha Rusady dan tembang Jennifer Lopez menjadi pengiring selama kami ngobrol. Mereka satu per satu bercerita soal pria idaman. Jeny yang pernah menjalin cinta dengan seorang pemuda di kampung asalnya, Semarang, namun akhirnya kandas lantaran orang tuanya tidak setuju.
1 (2)
Sementara Dina bercerita soal aktor idamannya yang sekarang tengah menjadi pujaan para gadis, Adjie Massaid. Dan Lusy mengeluh soal “pacar”nya yang jarang mengajaknya kencan lantaran tengah asyik dengan istri baru yang lebih cantik dan segar. Selama kurang lebih satu jam kami bertukar cerita. Percakapan kami terhenti ketika handphoneNokia terbaru milik Jeny berdering. “Diam dulu. Ada telepon masuk,” pintanya. Kami diam sejenak. Dengan nada perlahan, Jeny mengangkat handphone. “Ada apa, Pi?” tanya Jeny. “Oh, bisa, Pi. Jam berapa ketemunya? lanjutnya. “Kita dandan dulu ya. Kira-kira setengah jam kita sampai,” tandasnya. Usai menutup handphone,Jeny langsung menghampiri Dina dan Lusy.
“Papi bilang kita disuruh nemenin tamu main judi. Di tempat biasa. Bisa nggak?” tanya Jeny pada Dina dan Lusy. “Bisa aja. Gue ganti baju dan dandan sebentar ya,” timpal Dina dan Lusy bersamaan. Kami hanya mendengarkan percakapan mereka. Kami masih asyik duduk di atas pembaringan Jeny.  “Gue mandi dulu ya. Kamu di sini saja. Nggak apa-apa kok,” tukas Jeny pada kami sambil membuka pintu lemari mengambil sebuah handuk warna merah darah. Tak lama kemudian, dari kamar mandi terdengar bunyi gemericik air shower . Lima menit berlalu sudah. Kami menunggu sambil menonton peragaan busana-busana Armani di televisi. Dua menit kemudian, Jeny keluar dari kamar mandi dan segera menghenyakkan pantatnya yang emoy di atas kasur, dekat kami.Usai membaluri tubuhnya dengan cream kulit dan menghias mukanya dengan make-up soft Jeny mengenakan gaun hitam panjang dan sepatu hak tinggi. Sambil membetulkan letak gaunnya, Jeny mengangkat telepon. “Mas, tolong siapkan mobil satu.
Atas nama Jeny kamar 505,” pintanya. Jeny memandang dirinya di kaca cermin. “Kamu ikut aja ya. Udah pernah ke kasino belum? Yang ini tempatnya asyik banget, maklum tempatnya orang berduit. Ikut aja ya?” tawarnya. Kami hanya mengiyakan karena penasaran juga mendengar tawaran Jeny. Dari balik pintu, terdengar suara Dina dan Lusy. “Jen, udah siap belum. Kami menunggu di luar,” teriak mereka. Kami menuruni dua tangga. Begitu tiba di halaman depan, sebuah Kijang sudah menanti. Kami segera menghambur masuk bergantian. Jeny, Dina dan Lusy di depan, kami di bangku belakang. Selama perjalanan, ketiga gadis itu banyak bercerita soal kasino NS yang ditujunya.

You May Also Like