loading...
Permainan Truth & Dare – Mata Lelaki

Permainan Truth & Dare

Permainan Truth & Dare
loading...

Sebenarnya Permainan truth & dare, kami tak sengaja harus berkunjung ke Apartemen Bunga, tempat hunian bergaya hotel di kawasan Cempaka Putih,  Jakarta Timur. Semuanya berawal dari Bertha, seorang model baru yang wajahnya menghiasi beberapa tabloid dan majalah hiburan, mengundang kami ke ‘apartemen’nya tersebut.

“Nanti saya kenalkan beberapa orang teman. Dijamin cantik-cantik dan OKlho,” katanya setengah bergurau. Bertha ternyata tipikal orang yang gampang akrab. Kami mengenalnya dalam beberapa kali pertemuan di kafe MA, kawasan Jl.  Sudirman, Jakarta Pusat. Sebagai pendatang baru di dunia ‘keartisan’, gadis berusia 22 tahun berasal dari Surabaya ini  cukup ramah dan tergolong gadis aktif. Bertha mudah diajak berbincang, makan dan pergi jalan malam ke sejumlah kafe gaul.

Tentu saja, selama tak bentrok dengan kegiatan yang lain. Tetapi undangan makan malam seorang wanita cantik semacam Bertha jelas tak kami lewatkan. Sayang benar kalau kami sampai menolaknya. Toh, selama ini pun kami sering makan malam bareng.

Hanya saja kali ini surprise karena Bertha mengajak kami ke apartemennya. Apartemen Bunga itu terletak di jalan besar, persisnya berada tak jauh dari sebuah by-passyang menghubungkan sebuah supermarket franchise asing dengan sebuah terminal besar antar kota di Jakarta. Apartemen tersebut kiranya cukup mewah dengan prototype bangunan modern.

Apartemen itu terbagi dalam beberapa blok. Bertha sendiri berada di Blok B. Di halaman depan, tampak beberapa mobil parkir. Pintu masuk dijaga dua sekuriti. Cukup ketat karena tamu yang datang mesti dulu mendapat ijin dari tuan rumah, baru diperbolehkan masuk. Atau kalau tidak, tuan rumah sudah memberitahu petugas keamanan yang berjaga-jaga di bawah.

Malam itu, kami datang pukul 20.15 WIB. Sehari sebelumnya,kami memang menghabiskan malam di kafe ZB, di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Waktu itu, Bertha ditemani salah satu teman wanitanya yang tak kalah menarik. Gadis itu oleh Bertha dikenalkan kepada kami sebagai Susi, 24 tahun. Di situlah, Bertha mengundang kami untuk makan malam keesokan malamnya.
Pintu masuk ke apartemen itu menggunakan sistem elektronik.

Meski jarum jam telah menunjuk pukul angka delapan lebih, tapi suasana di sekitar apartemen Bunga itu tampak ramai. Beberapa outlet makanan yang buka masih didatangi beberapa pembeli. Sementara di sudut lain, sebuah supermarket franchise asing yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari apartemen Bunga, menunjukkan aktifitas tinggi. Kami menaiki lift
menuju lantai 9. Kami melewati deretan kamar-kamar layaknya di hotel.

Di masing-masing pintu kamar, tertulis nomor lengkap dengan bloknya. Mata kami tak lepas mengamati keadaan sekeliling. Tampak sepi. Beberapa puluh pintu kamar tertutup rapat. Tampaknya, mereka yang tinggal di sini lebih senang dengan kehidupan privacy. Di pintu bernomor B/93 kami berhenti. Bertha menyambut kami. Mengenakan baju terusan warna pink, Bertha menyilakan kami duduk.

Di dalam kamar berbentuk studio itu ternyata sudah ada dua wanita dan seorang pria. Yang satu sudah kami kenal sebelumnya, Susi dan satunya lagi bernama Dona, 21 tahun.

Sementara yang laki-laki mengaku bernama James, 28 tahun. Susi mengenakan T-shirt biru ketat dengan celana model tank- top. Sedangkan Dona —gadis berkulit kuning sawo matang dengan tahi lalat di kening, membalut raganya dengan sack-dress selutut warna ungu muda. Susi sendiri,yang biasanya memang menjadi teman seperjalanan Bertha, ternyata tinggal di
apartemen yang sama, hanya saja dia berada di lantai tujuh. Sedangkan Dona, mengaku sering menginap di apartemen Bertha.

James biasanya selalu ikut serta kalau kebetulan tidak punya acara. Pria yang katanya punya usaha di bidang jasa angkutan ini, termasuk salah satu laki-laki yang sering menemani Bertha. “Ini bukan dinnerbeneran lho. Hanya makan-makan biasa,” kilah Bertha sambil ikut bergabung di ruang tamu.

Di dinding, kami melihat beberapa foto Bertha dipajang dalam ukuran besar. Beberapa diantaranya mengenakan busana seksi dengan pose-pose menantang. Sebuah televisi 29 inci lengkap dengan peralatan audio lainnya seperti CD player dan VCD. Malam itu, Bertha memang menjamu kami dengan beberapa hidangan makanan. Lumayan untuk sebuah dinner di apartemen, pikir kami. Buah anggur pluspir, menjadi penutup jamuan malam. Jam sudah menunjuk angka 21.30 WIB ketika kami dan Bertha Cs menyelesaikan makan malam dan kembali bercengkrama di ruang tamu. Untuk sesaat lamanya, Bertha memperlihatkan kamarnya yang serba bernuansa pink. Apartemen yang ditempat Bertha bertipe studio dengan dua kamar.

Bertha sendiri menempati kamar yang menghadap langsung ke jalan besar. Di dalam kamar seluas 5X5 meter persegi itu terdapat spring-bedwarna pink. Di dinding kamar yang juga berwarna pink itu terpajang sebuah foto wanita hitam putih dalam keadaan nndies. Tampak artistik tanpa menampakkan secara jelas wajah di balik wanita telanjang itu. “Itu foto aku tiga tahun lalu,” sergah
Bertha mengagetkan kami. Hanya lima menit kami diajak Bertha melihat­lihat kamar untuk kemudian kami sudah berkumpul di ruang tamu. Kali ini, kami sengaja memilih duduk di karpet. Bertha, Susi, Dona dan James pun melakukan yang sama. “Main kartu yuk. Dari pada bengong?” Tiba-tiba saja, Bertha melontarkan ide itu. Kami hanya menganggukkan kepala pertanda setuju.

Siapa takut? pikir kami. Soal main kartu, kami bukannya bodohbodoh amat. Teman-teman kami dari kalangan ‘anak gaul’, banyak juga yang doyan bermain kartu, dari yang sekedar iseng sampai menggunakan uang jutaan rupiah. Susi, Dona dan James pun mengiyakan. Kata mereka, sudah jadi tradisi kalau lagi berkumpul mereka iseng-iseng bermain kartu. “Paling tidak, ada sesuatu yang dikerjakan,” kata Dona malu-malu. Di atas karpet kami membentuk formasi lingkaran. Chanel televisi dirubah Bertha menjadi tayangan musik mancanegara non stop.

Bertha mengenalkan jenis permainan truth & dare. Kartu pertama bergambar seperti kartu King, hanya saja bentuknya tidak sama seperti kartu remi kebanyakan. Sedangkan kartu kedua bergambar mirip Queen hati. Hanya saja kedua kartu itu warnanya lebih gelap, tidak terlalu banyak warna-warna mencolok. Kartu bergambar King berarti Dare, sementara kartu bergambar Queen
hati berarti Truth. Begitu aturan mainnya. Dua kartu ‘truth & dare’ itu dalam permainan-nya dikocok menjadi satu dengan kartu-kartu remi biasa. Mendengar itu, tentu saja kami sedikit terkejut. Karena ternyata, permainan yang satu ini berbeda dari biasanya. Ketika seseorang mendapat kartu Dare, maka si pemegang kartu harus bersedia melakukan apapun.

Dan ketika mendapatkan kartu ‘truth’, si pemegang kartu harus mau bercerita tentang segala hal —termasuk sesuatu yang sifatnya private sekali pun. Itulah aturannya. Dan malam itu, kami ditemani iringan lagu-lagu Jennifer Lopez, Madonna, Britney Spears dan sederet ‘diva dunia’, permainan ‘truth & dare’ itupun dimulai. Bertha menjadi leader yang pertamatama membagi-bagikan kartu. Masingmasing pemain mendapat bagian satu kartu selama tiga kali putaran ber-turut-turut. Pada putaran ketiga itulah, masingmasing pemain harus memperlihatkan kartu yang didapatnya.

Kalau kebetulan belum ada satu pemain pun yang terbukti mempunyai kartu ‘truth’ atau ‘dare’, maka kartu akan dibagikan kembali sampai ada salah satu pemain yang ‘tersangkut’. Namun, ada juga yang melakukan permainan ‘truth & dare’ tanpa kartu. Itu dilakukan, kalau kebetulan memang tidak ada kartu. Biasanya, permainan itu dilakukan dengan beradu telapak tangan. Telapak tangan atas berarti ‘dare’, bawah berarti ‘truth’. Dalam aturannya, pemain saling menebak ketika mereka
beradu sampai tebakannya benar. Begitu seterusnya. Sex-game. Pada awalnya, permainan iseng-iseng itu berlangsung biasa.

Ketika Bertha dan Dona misalnya men-dapatkan kartu ‘truth’,kami hanya me­nyuruhnya untuk bercerita soal umur, berat dan tinggi badan. Begitu juga ketika kami yang kebetulan ketiban apes mendapatkan kartu ‘dare’, kami hanya disuruh jongkok atau memegang hidung hingga permainan menemukan korban berikutnya. Mungkin karena masih kagok kali ya maklum, dari tiga gadis yang kami kenal, baru Bertha yang boleh dibilang ‘akrab’, permainan awal itu terasa enteng dan biasabiasa saja.Tapi semakin malam, diselingi hidangan makanan kecil, buah-buahan dan beberapa minuman seperti winedan bir, permainan itu merambat panas.

Detik demi detik yang menegangkan itu pun terjadi juga. Manakala si cantik molig Dona kedapatan memegang kartu ‘dare’,maka James, Bertha dan Susi, langsung menyuruhnya berdiri. Kemudian, dengan menahan senyum, bibir Bertha yang tampak dipoles lipstick cokelat matang itu meminta Bertha untuk menari dan melepaskan ikatan rambut di kepala. Detik berikutnya, giliran Susi meminta Dona melepaskan kaos ketat yang menutupi tubuhnya. Uniknya,

Dona pun dengan serta merta melakukannya, sehingga tinggal bra yang menutup bagian dadanya. Alamak, kami terus terang kaget juga melihat aksi itu. Walau beberapa kali, kami pernah diajak beberapa teman berduit untuk nonton striptis, tapi tetap saja rasa kaget itu datang. Hanya sampai di situ, Dona kembali ikut bermain. Biasanya, dalam aturan mainnya, pemenang hanya boleh mengajukan satu permintaan, tidak boleh lebih. Maka ketika giliran Bertha yang ketiban apes meme-gang kartu ‘truth’, kami memintanya bercerita terus terang soal perjalanan karirnya sebagai pendatang baru di dunia keartisan.

Truth-or-Dare

 

“Pahit dan susah!” Itulah jawaban pertama yang keluar dari bibir Bertha. Awal karirnya harus ia
lalui lewat jalur pintas. Bermula dari sebuah peran figuran dalam sebuah film, Bertha mesti merelakan di Sedih memang. Menyusuri jalur model lewat sebuah ajang pemilihan putri sebuah produk kecantikan di Surabaya, Bertha mendapat Juara II.Sejak itu,beberapa tawaran mulai datang. Dari pemotretan untuk majalah sampai untuk brosur iklan. Sampai akhirnya, ia
memutuskan hijrah ke Jakarta karena ada teman yang membukakan jalan. Keputusan pindah itu, juga lantaran keluarganya tak lagi menerimanya karena ia ketahuan mengandung seorang bayi hasil karya pacarnya. Meskipun akhirnya, ia memutuskan untuk menggugurkannya. Dan datanglah tawaran untuk main film. Namun yang terjadi, tidak lah jauh beda. Tawaran demi tawaran
selalu ujungujungnya selalu terkait dengan service pribadi. Dan itulah yang mesti ia jalani di awal karir. Bertha mengaku, jatuh dari satu pria ke pria berikutnya. Hasilnya, beberapa sinetron dan film telah dibintangi meski hanya pemeran pembantu. Salah satunya film RTG, yang kebanyakan mengekspos adegan-adegan syur dan panas. Stop! Cerita itu berhenti.

Permainan pun berlanjut. Kini, lagi-lagi Dona yang harus mendapatkan kartu ‘dare’.Gadis yang mengaku dari Bandung yang hanya tinggal mengenakan bra dan celana jins itu pun untuk kesekian kalinya mesti melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya. Pada gilirannya, Bertha pun mendapat jatah kartu ‘dare’. Dan dengan serta merta, baju sack-dressyang ia kenakan,
ditanggalkan. Hingga menjelang pukul 01.00 WIB dini hari, dua gadis itu tak lagi berbusana. Sementara Susi hanya tinggal mengenakan underwear, dan James pun tinggal menyisakan celana pendek dengan dada terbuka. Sungguh tidak disangka, kami pikir permainan itu bakal usai. Namun, kenyataannya jauh permainan iseng malah lebih gila dan jadi sungguhan. Entah sudah
berapa kali, Dona dan Bertha memperagakan adegan layaknya dua pasang kekasih sesama jenis. Begitu pun Susi yang berulang kali men’service’ James. Detik detik menegangkan itu, pada gilirannya memang berubah menjadi ajang permainan nakal yang sarat dengan ulah dan perilaku ‘gilagilaan’. Bayangkan saja, selama hampir dua jam terakhir, permainan itu telah berubah
menjadi ajang pesta nafsu yang menggebu.

Permainan awal yang hanya penuh canda tawa itu, lambat laun menjadi sungguhan. Itulah yang terjadi. Dan ternyata, permainan sejenis ‘truth & dare’ ini sudah jadi satu hobi yang trenddi beberapa orang dari kalangan nitesociety. Berulang kali —memang tidak terlalu sering sih, setiap kami habis menghabiskan malam di sejumlah kafe trend-setter,terdengar cerita seru ihwal permainan nakal sejenis ‘truth & dare’ dari beberapa muda-mudi yang melakukannya. Bahkan, tak jarang, kami pun diajak untuk bergabung. Cerita yang kami dengar dari sejumlah teman dari anak-anak gaul —bahkan beberapa diantaranya kami saksikan dengan mata-kepala sendiri, memang tak beda jauh dengan apa yang terjadi di apartemen Bertha. Dan ternyata, bagi Bertha permainan itu sudah berulangkali ia lakukan bersama teman-temannya. Truth & Dare, permainan nakal yang ujung ujungnya memang tidak jauh dari persoalan petualangan seksual. “Hanya beda di menu foreplay-nya saja,” ujar Bagus, seorang esmud kawan kami yang juga terkenal sebagai anak malam. Benarkah?