Surabaya, Surga Hiburan Malam

Surabaya, Surga Hiburan Malam
loading...

[Surabaya, Surga Hiburan Malam] KALAU soal jumlah pemasukan lewat pajak hotel dan restoran (PHR), boleh jadi Pemkot Surabaya kalah dengan Badung. Badung tahun 2001 mendulang Rp 314 milyar lebih, sedangkan Surabaya hanya Rp 49 milyar lebih. Namun, soal rekreasi dan hiburan umum, nanti dulu. Buktinya, pajak hiburan di Surabaya tahun 2001 mencapai Rp 7,5 milyar, sedangkan Badung baru Rp 1,5 milyar.

Soal hiburan malam di kota buaya ini memang sorganya. Segalanya tersedia. Mulai hiburan ringan, klub malam, bar, karaoke sampai yang high class dengan fasilitas lengkap tersedia. Hampir semua restoran menyediakan penyanyi yang siap dipanggil kapan saja. Cukup dengan Rp 300.000, penyanyi klub malam sudah siap menghibur. Bahkan kalau pintar merayu, bisa di-booking. Begitu pula karaokenya, hampir sama dengan Bali. Terasa tak lengkap kalau tak ada CO-nya (cewek orderan).

Sekadar jalan-jalan atau melihat suasana hiburan malam di kota buaya memang tak akan bosan, menikmati apalgi. Kalau mau yang kelas murahan, tengoklah tempat hiburan malam di kampung Doly. Ada semacam ”akuarium” yang berisi wanita-wanita yang siap melayani pelanggan. Karena seperti akuarium, maka orang yang lewat bisa ”membeli” atau sekadar cuci mata. Kampung ini memang terkenal dan selalu ramai siang malam. Tetapi bagi mereka yang ingin masuk lebih dalam, setidaknya Rp 100.000 sudah mendapat segalanya. Bahkan, masih ada susuk. Mulai dari minuman ringan, camilan ringan termasuk berkencan. Namun, bagi yang merasa risi dengan ceweknya, misalnya khawatir tertular penyakit seksual, bisa menolak ajakan kencan atau gunakanlah kondom.

Bagi yang berduit bisa meninjau sebuah kompleks ruko yang cukup megah di Kawasan Darmo. Darmo Park namanya. Sebuah ruko bertingkat seluas 1 hektar. Di sini sudah komplit tersedia. Mulai dari salon (lantai I), pijat plus (II), sampai ruang untuk bermalam (III). Sepintas melihat dari jalan, tampak cewek-ceweknya lebih berani. Begitu berada di depan jalan, CO dengan pakaian minim menantang sudah siap menyapa. Mereka pun sudah menyiapkan atraksi khusus agar tamu dengan suka rela bisa singgah ke dalam hiburan malam.

Dari sejumlah informan yang biasa mengantar tamu ke sana, untuk sebuah layanan short time cukup Rp 150.000 s.d. Rp 200.000, sudah komplit. Mulai dari pijat biasa sampai pijat plus dilayani. Bagi yang malas, enggan jalan-jalan keluar hotel, jangan kaget, cukup pesan di operator, tamu ”tak diundang” siap menggedor pintu kamar melayani keperluan Anda. Itulah hiburan malam Surabaya yang menyediakan sekitar 200 karaoke, pub, kebugaran, salon kecantikan, pijat dengan 20 diskotek. Sayangnya, jumlah diskotek itu dibatasi lagi sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Pendapatan Surabaya Drs. EC Muhtadi, M.M. karena sudah mendekati jenuh.

Tak Tertarik Bugil
Fasilitas hiburan — terutama hiburn malam — di Surabaya memang lebih banyak dan bervariasi. Di Badung, kata Kadis Pariwisata Oka Darmawan, S.H. Rabu (22/5) kemarin di Kuta, karaoke 10 buah dengan satu diskotek. Tampaknya yang lebih banyak justru salon kecantikan dan spa 58 buah, pusat kebugaran 12, panggung pertunjukkan 15, panti pijat 10, pijat refleksi 3, bola ketangkasan 9.

”Kalau karaoke sejak tahun 2001 agak sepi,” katanya. Bagaimana dengan tarian bugil yang sempat dihebohkan itu, Oka Darmawan mengaku belum ada karaoke yang khusus menyediakan itu. Tetapi kalau sekadar cewek berpakaian tipis dengan perpaduan lampunya, ada karaoke yang menyediakan. ”Tetapi itu tak banyak, karena daya tarik pariwisata bukan itu,” kilahnya tanpa merinci.

Soal tarian bugil, dia meyakinkan wisatawan mancanegara tak tertarik karena kebiasaan telanjang sudah lazim di negaranya. Namun yang namanya pariwisata, menjual image serta keunikan suatu kawasan tetap diperlukan sebagai bagian Sapta Pesona. ”Tetapi bukan tarian bugil lho,” selorohnya.

Oka Darmawan tak memungkiri kondisi objektif hiburan malam di Badung masih sampai pukul 03.00 dini hari, karena menjelang tengah malam tamu-tamu baru datang ke tempat hiburan. ”Yang penting etika dengan tetangga tetap diperhatikan, misalnya suara tak terlalu keras,” ujarnya. Semua keluwesan itu diberikan agar wisatawan merasa nyaman. Sebuah kiat menyiasati ketatnya persaingan antardestinasi.(*)

BACA JUGA:

TAG: PIJAT

You May Also Like