The Lapdancer (1)

The Lapdancer (1)
The Lapdancer (1) – “TEQUILA single, dong!”
Gadis itu duduk di kursi bar. Sebarang rokok Virginia Slim terselip di bibirnya yang memerah oleh lipstik. Rambumya yang panjang mengikal, dibiarkan tergerai menyentuh kaki-kaki kursi.
“Biasa, nggak usah pake garem,” sambung-nya.
la terlihat begitu akrab dengan bartender. Beberapa pelayan yang melintas tersenyum pada-nya, begitu juga dengan sejumlah tamu lakilaki yang kebetulan berpa-pasan denganya.
Masih sama. Gadis itu—dua minggu lalu— juga memesan tequila. la juga duduk sendirian di bar. la begitu enjoy duduk di antara sekian tamu laki-laki yang memadati bar. 
Segelas tequila itu masuk ke mulutnya dengan sekali tenggak. la membasahi bibirnya dengan seiris jeruk untuk menghilangkan rasa pahit di kerongkongnya.
bar_pool5
“Satu lagi dong!”
Segelas tequila tanpa garam itu pun terhidang di depannya dalam hitungan menit. la tak langsung meminumnya. Sejenak, ia memutarmutar gelas shooter itu dengan jemarinya. Asap rokok mengepul dari bibirnya. Kali ini, ia menebarkan pandangan matanya pada kerumuman tamu yang asyik berjoget mengikuti hentakan lagu. Sebagian besar terdiri dari tamu laki-laki. Hanya ada beberapa tamu perempuan yang hadir malam itu. 
“Boleh saya gabung?”
Gadis itu menoleh dan tersenyum.
“Silakan!”
Saya duduk persis di sebelahnya.
“Viki!”
Ia mengenalkan namanya. Spontan, lugas dan tidak ada kesan canggung.
“Boleh saya traktir minum?”
Viki merapikan beberapa helai rambut yang menutupi sebagai wajahnya. Ia mengangguk. 
“Mau minum apa?”
“Tequila, plisss…,” jawabnya singkat. 
Ini berarti sudah gelas ketiga. Sebagai tanda perkenalan, saya pun ikut memesan tequila. Sebuah perkenalan yang sangat singkat dengan obrolan ala kadarnya. 
Siapa dia? Itu yang jadi pertanyaan saya. Satu jam sebelumnya, saya menyaksikan aksi tarinya di atas bar. Bersama tiga penari laki-laki, Viki men-jadi ratu yang memesona. Ia terus bergerak atraktif dari menit ke menit. Lima menit pertama, ia menyerbu masuk di antara kerumunan tamu, lalu pada menit berikutnya tahu-tahu sudah berpindah ke atas bar. 
Tiga penari laki-laki yang hanya membalut tubuhnya dengan kain sejenis cawat itu, tak kalah-nya gesitnya. Mereka juga mempertontonkan ge-rakan-gerakan erotisnya. Sebagian besar tamu laki-laki yang hadir malam itu tampak begitu antusias menikmati wild-show yang digelar. 
Tema acara yang diselenggarakan di sebuah kelab berinisial TF di bilangan Kuningan-Jakarta malam itu memang gay nite. Uniknya, selain di-jadikan sebagai ajang berkumpulnya para gay, tetapi juga menarik perhatian komunitas lesbian dan beberapa tamu yang notabene heteroseksual. Oh ya satu lagi, yakni sekelompok tamu yang mungkin, sssttt…biseksual. 
Rata-rata, para tamu yang bergoyang di dancefloor tidak ada yang berpasang-pasangan dengan lawan jenis mereka. Yang ada hanya lakilaki berpasangan dengan laki-laki, dan perempuan berpasangan dengan perempuan. Beberapa tran-seksual juga terlihat di sana. TF memang terkenal sebagai rainbow club, tempat khusus untuk gay, lesbian, dan transgender, terutama untuk hari Kamis dan Sabtu. 

You May Also Like